Rabu, 18 Februari 2009

POTENSI PORANG

1. Potensi Budidaya porang
Tanaman Porang merupakan tumbuhan herba dan "menahun". Memiliki batang semu (sebenarnya tangkai daun) yang tegak, berkulit halus, berwarna hijau pucat dan putih yang belang-belang dan berkelok-kelok. Di ujung batang memecah menjadi tiga batang sekunder yang akan memecah lagi menjadi beberapa batang dimana helaian daun berjajar beriringan. Pada setiap pertemuan batang terdapat bubil/katak berwarna coklat kehitaman sebagai bahan perkembangbiakan tanaman. Di akhir musim hujan, batangnya akan rebah dan mati, selanjutnya umbi porang akan istirahat (dorman) tidak mengadakan aktivitas pertumbuhan sepanjang musim kemarau. Pada musim hujan umbi yang dorman di dalam tanah akan tumbuh tunas baru sehingga lama-kelamaan umbi semakin mengecil dan akan semakin membesar menjelang musim kemarau dan begitu selanjutnya.
Tanaman Porang yang telah berumur di atas tiga tahun, akan muncul bunga yang disangga tangkai bunga tunggal yang keluar tepat di pusat umbi. Tangkai bunga akan menjulur ke permukaan tanah, panjangnya bisa mencapai 0,5 m s.d. 1,5 m. permukaan tangkai bunga berwarna hijau segar dan berbau tidak enak. Tongkol bunga terdiri dari tiga bagian. Bagian paling atas merupakan bunga mandul, bagian tengah bunga jantan dan paling bawah merupakan bunga betina. Tinggi tanaman dapat mancapai 1,5 m tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Dari bunga ini akan menghasil biji - biji yang dapat digunakan sebagai benih/bibit.
Budidaya Porang termasuk budidaya tanaman yang cukup mudah dan tidak terlalu intensif pemeliharaannya. Tanaman Porang merupakaan tanaman sangat pontensial dikembangkan dibawah tegakan hutan negara maupun hutan rakyat, sebab:
1. Porang hanya tumbuh dan berkembang dengan baik dibawah naungan dengan intensitas cahaya sebesar 60-70%. Kondisi ini memerlukan kondisi tegakan hutan yang baik sehingga secara tidak lansung mencegah terjadinya Illegal Logging dan mempertahankan keberadaan hutan negara dan hutan rakyat dalam waktu cukup lama.
2. Mencegah terjadinya penggembalaan liar di dalam kawasan hutan, karena dapat merusak porang yang ada di dalamnya (Tanah menjadi padat),
3. Mencegah terjadinya kebakaran di kawasan hutan, karena akan mematikan perkembangan/kelestarian Porang yang ada di dalamnya,
4. Porang berfungsi hidro orologi sebagai tumbuhan semak di dalam hutan dan mencegah erosi (run off),
5. Mempunyai nilai ekonomis dan produktif,
6. Merupakan jenis tanaman toleran yaitu tanaman yang mampu hidup dibawah naungan.
7. Meningkatkan pendapatan / kesejahteraan masyarakat sekitar tepian hutan,
8. Menciptakan lapangan kerja baru.
Dengan demikian antara tanaman porang (Amorphopallus onchophyllus) dengan tegakan hutan (hutan negara/hutan rakyat) mempunyai hubungan simbiosis mutuaslisme (saling menguntungkan), sehingga tanaman porang layak untuk dikembangkan dalam upaya pelestarian sumberdaya hutan dan sebagai sarana pengalihan orientasi dan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan dari Hasil Hutan Kayu ke Hasil Hutan Bukan Kayu dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarkat. Budidaya Porang untuk satu hektarnya minimal 4 Ton per Hektar dan bila dibudidaya lebih intensif dapat mencapai 8 - 9 Ton per ha.
Tanaman Porang tidak dapat dikonsumsi atau digunakan secara langsung tapi harus diolah lebih lanjut karena mempunyai sifat gatal. Hasil olahan dalam bentuk tepung yang diolah secara pabrikan dan agak rumit. Tapi masyarakat mengolahnya dalam bentuk kripik kering yang dikirim ke pabrik. Perbandingan basah ke bentuk kering adalah 100 Kg basah menjadi 17 Kg Kering. Hasil olahan Porang ini digunakan untuk pencampur atau katalis makanan seperti jellly, ice cream, sosis, dan mie. Digunakan juga untuk bahan kosmetik. Pemasaran selain untuk kebutuhan dalam negeri juga diekspor ke Jepang, China, Eropa dan Kanada.

2. Porang di Indonesia
Tanaman porang yang hidup subur di kawasan hutan tropis ternyata memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Selain bisa ditanam di dataran rendah, Porang dengan mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono. Beberapa bentuk usaha porang:
a. Budidaya porang
- Kerjasama antara Perhutani dan LMDH berkait pembudidayaan Porang seluas 37,4 Ha telah dimulai sejak tahun 2005- 2007 yang meliputi LMDH Ngudi Makmur Desa Katekan, Jati Makmur Desa Sumber Jatipohon, Wono Martani Desa Karangrejo, Batur Wana Desa Kemadohbatur, dan LMDH Hutan Lestari Desa Tambakselo.
- LMDH Jatimakmur yang memanfaatkan lahan mencapai 3.720 ha. Dari luasan itu, baru 500 ha yang ditanami porang. Selain di Kecamatan Rejoso.
- LMDH Argo Mulyo di Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk. Kelompok yang beranggotakan 239 pekebun itu membudidayakan porang di lahan 300 ha.
- Petani porang desa Klangon Kecamatan Saradan Madiun Jatim berhasil memetik keuntungan sebesar Rp 5,5 miliar dengan menanam Porang selama beberapa tahun. Di kawasan itu Porang dibudidayakan diatas lahan hampir 615 ha oleh 515 orang petani dengan produktivitas tanaman mencapai sembilan ton per ha Sementara total produksi adalah 5.535 ton sekali panen yang kemudian di ekspor ke sejumlah negara. Jepang adalah negara utama pengimpor Porang dari Indonesia. Umbi Porang menjadi menu favorit sebagian besar masyarakat disana setelah diolah menjadi makanan Konyaku (tahu) dan Shirataki (mie).
b. Industri pengolahan porang
- PT Agro Alam Raya adalah eksportir keripik porang di Jombang, Jawa Timur. Sedangkan kapasitas produksi hanya sanggup memasok 300 ton/tahun. Negara tujuannya adalah Australia. Sementara kebutuhan yang ditawarkan adalah 1000 ton/tahun. . Untuk memenuhi kebutuhan pasokan, Lukman mengerahkan 4 truk berkapasitas 9 ton yang setiap harinya menjemput porang segar dari para pekebun di Banyuwangi, Madiun, Nganjuk, dan Jember. Harga beli umbi porang segar di tingkat pekebun Rp800/kg.
- PT. Ambico, Ltd desa Carat, kec. Gempol, Pasuruan merupakan produsen olahan porang menjadi konyaku dan sirataki. Kebutuhan bahan baku segar saat ini 2.000 ton/tahun. Hasil olahan Ambico berupa shirataki dan konyaku. Menurut Sukirman, juru masak Restoran Hanamasa, kedua penganan itu merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Saat menikmati hidangan itu, biasanya tersedia saos thai suki yang rasanya kuat sehingga shirataki dan konyaku lebih nikmat.
- CV SKS Jaya dengan alamat Jl. Setra sari, Bandung, Jawa Barat merupakan industri pengolahan porang menjadi tepung dan chips.Mampu menghasilkan tepung dengan kadar glukomanan 60%

3. Prospek porang di Indonesia
a. Dengan harga jual Rp1.000/kg, pekebun masih memperoleh laba Rp500/kg. Hal itu lantaran pekebun tak perlu membeli atau pun menyewa lahan. Dengan bergabung dalam LMDH, pekebun mendapat hak pengelolaan lahan hutan secara cuma-cuma. Pemeliharaannya pun mudah. Cukup lakukan penyiangan bila tinggi gulma melebihi tanaman porang. Para pekebun juga dapat meraup penghasilan tambahan dengan menjual umbi katak yang jatuh untuk benih dan umbi segar. Harga jual umbi katak Rp8.000/kg. Bila umbi katak dibiarkan tumbuh, pekebun dapat menjualnya sebagai bibit dengan harga Rp2.000/batang.
b. Hasbullah salah seorang penyedia porang di nganjuk, jatum dengan harga Rp 6500,-/kg porang kering. Eksportir porang di Surabaya itu juga tidak menetapkan syarat ketat, yang penting umbi kering dan bersih dari cendawan. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan itu kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga bisa dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan di Surabaya.
c. Suratman di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Guru Sekolah Dasar itu membudidayakan porang di lahan 15 ha. Dari lahan itu Suratman memanen 75-150 ton umbi porang segar per tahun atau 5-10 ton/ha. Dalam setahun Suratman hanya sekali menanam porang. Sebab umbi porang hanya tumbuh subur di musim hujan. Umbi hasil panen dijual ke pengepul. Dengan harga jual Rp1.000/kg, total omzet yang diraih Suratman Rp75-juta-Rp150-juta per tahun atau Rp6,25-juta-12,5-juta per bulan. Dari harga jual itu Suratman mengutip laba bersih Rp500/kg atau Rp3,12- juta-Rp6,25-juta per bulan. Di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, itu tak hanya Suratman yang menangguk laba dari porang.
d. Menurut Suparno, wakil ketua Forum Komunikasi LMDH Jawa Timur, pekebun porang juga meluas di berbagai daerah seperti Madiun, Banyuwangi, dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat. Masing-masing pekebun pun berlomba-lomba memperluas lahan garapan.
e. Pohon industri porang: umbi bisa dibuat : chips, chip setelah dimurnikan jadi tepung dibuat beraneka makanan: mie, tahu jepang, beras tiruan rendah kalori, bermacam-macam menu makanan namun baru jepangb yg bisa buat. saya belum penelitian utk itu. demannya ngak ada di Indonesia. nanti akan saya muat tulisan saya tentang ini. saya baru buat mie instan dan pangan darurat. juga dari tepung dibuat glukomanan bahan baku industri macam-2. limbah padatnya masih sdg riset utl lem dan lem lengket pada suhu kamar. Mata rantai industri porang ya: produsen biasanya petani hutan, tengkulak dea, tengkulak kecamatan, tengk. kota, tengk propinsi, industri pabrik industri olahan makanan spt; jelly drink, dsb. Manfaat lain porang antara lain dipakai sebagai perekat lem pesawat terbang, campuran bahan baku industri, bahan dasar industri perfilman, hingga diolah menjadi minuman penyegar tubuh. (H41-16) (Suara Merdeka).

4. Kendala usaha porang
a. Terbukanya peluang usaha porang bukan berarti tanpa aral melintang. Jumlah eksportir porang yang masih terbatas dikhawatirkan tercipta ketergantungan pasar. Menurut Lukman Hakim, saat ini baru terdapat 5 eksportir porang di Indonesia. Akibatnya, kendali harga ada di tangan para eksportir. Modal yang terbatas membuat para pekebun hanya mengandalkan keuntungan dari hasil penjualan umbi segar. Padahal, bila dijual dalam bentuk olahan, keuntungan bisa berlipat.
b. Salah satu zat manan itu digunakan sebagai bahan perekat, pembuat seluloid, kosmetik, makanan, hingga bahan peledak. Peluang usaha porang yang menggiurkan mendorong para pemasok mengambil jalan pintas. Mereka lebih memilih berburu di hutan-hutan ketimbang membudidayakannya di lahan. Akibatnya, populasi porang di alam terancam. Padahal, untuk memperoleh bibit para pekebun juga mengandalkan pasokan alam. Jika demikian, harta yang terpendam itu perlahan sirna (trubus).

1 komentar:

  1. mohon pihak pemerintahan memberi pencerahan mengenai PORANG
    UD.GESANG 031-70505758
    SUDAH Menanam porang
    ALAS SURUH lumbangrejo (LMDH PRIGEN PASURUAN JATIM)

    BalasHapus