Jumat, 20 Februari 2009

Bahan Baku Potensial Bioetanol

A. Ubi kayu
1. Ketersediaan di pulau Jawa adalah sbb:
- Jawa Barat. Produksi 2,044,674 ton/tahun
- Jawa Tengah. Produksi 3,553,280 ton/ tahun
- Jawa Timur. Produksi 3,680,567 ton/tahun
Produksi Ubi kayu nasional sebesar 19.5 juta ton/thn dengan areal seluas 1.24 juta ha pada tahun 2005. Provinsi Lampung adalah daerah penghasil ubi kayu terbesar (24%), diikuti Jawa Timur (20%), Jawa Tengah (19%), Jawa Barat (11%), Nusa Tenggara Timur (4.5 %), dan DI Yogyakarta (4.2%)

2. Analisa usaha bioetanol untuk 100 lt/hari.
Asumsi: Harga beli ubi kayu Rp. 600/kg
Biaya produksi Rp. 6,336/lt
Harga jual bioetanol Rp. 7000/lt
Biaya total Rp. 633,615/hari Rp. 228,101,400/th
Penerimaan total Rp. 700,000/hari Rp. 252,000,000/th
Profit Rp. 66,385/hari Rp. 13,916,100/th
3. Sebaran penggunaan ubi kayu
Ubi kayu merupakan bahan baku berbagai produk industri seperti industri makanan, farmasi, tekstil dan lain-lain. Industri makanan dari ubi kayu cukup beragam mulai dari makanan tradisional seperti getuk, timus, keripik, gemblong, dan berbagai jenis makanan lain yang memerlukan proses lebih lanjut. Dalam industri makanan, pengolahan ubi kayu dapat digolongkan menjadi tiga yaitu hasil fermentasi singkong (tape/peuyem), singkong yang dikeringkan (gaplek) dan tepung singkong atau tepung tapioka. Permintaan ubi kayu dari luar negeri sangat tinggi seperti cina, Kamboja, Prancis. sementara itu kebutuhan dalam negeri juga belum terpenuhi.

4. Budidaya ubi kayu
Ubi kayu adalah tanaman yang memiliki adaptasi sangat luas sehingga sering disebut sebagai tanaman pioneer. Tanaman ubi kayu tumbuh di daerah antara 300 lintang selatan dan 300 lintang utara, yaitu daerah dengan suhu rata-rata lebih dari 180C dengan curah hujan di atas 500 mm/tahun. Namun demikian, tanaman ubi kayu dapat tumbuh pada ketinggian 2.000 m dpl atau di daerah sub-tropis dengan suhu rata-rata 160C. Di ketinggian tempat sampai 300 m dpl tanaman ubi kayu dapat menghasilkan umbi dengan baik, tetapi tidak dapat berbunga. Namun, di ketinggian tempat 800 m dpl tanaman ubi kayu dapat menghasilkan bunga dan biji.
5. Lokasi pengolahan bioetanol ubi kayu
Sesuai pertimbangan kesediaan bahan baku dan harga yang terjangkau, maka lokasi yang potensial adalah sbb;
a. Kabupaten Sukabumi.
Ubi kayu tersebar di beberapa kecamatan, masyarakat sudah memiliki kebiasaan menanam ubi kayu. Harga ubi kayu maksimal dari petani Rp 700,-. Sudah ada program budidaya ubi kayu oleh pemerintah propinsi Jawa Barat.
b. Kabupaten Bogor
Ubi kayu tersebar di kabupaten bogor, sebagian besar daerah perbukitan ditanami ubi kayu sejak bertahun-tahun oleh masyarakat setempat. Harga ubi kayu maksimal dari petani Rp 1000,-.
c. Kabupaten Wonosobo/ Banjarnegara
Ubi kayu banyak terdapat di beberapa kecamatan, terutamaa di Daerah Wonosobo bagian selatan. Harga ubi kayu maksimal dari petani Rp 500,00.
d. Kabupaten Wonogiri.
Merupakan salah satu sentra ubi kayu di Jawa Tengah dengan tingkat produksi 1 juta ton/tahun.
B. Sorgum
1. Ketersediaan
sejak tahun 2004 hingga tahun 2008 sorgum telah dikembangkan di 6 propinsi dan 12 kabupaten, luasan pengembangan mencapai 22.650 ha. Daerah penghasil sorgum meliputi 31 kabupaten serta yang berpotensi hampir tersebar pada sebagian kabupaten. Peluang untuk mengembangkan mencapai luasan 6.203.850 ha yang berada di Jawa, Bali, Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua dari lahan yang tersedia 6.226.500 ha.
- Jawa Timur, terdapat di Tuban
- Jawa barat, terdapat di Ciwide, Bandung
- Jawa Tengah, terdapat di Demak dan Grobogan. Total produksi tahun 2006 adalah 1.770 ton/tahun.
- Yogyakarta, terdapat di bantul, Gunung Kidul
- Nusa Tenggara barat
- Sulawesi Selatan
- Lampung
2. Analisa usaha
Asumsi: Harga beli sorgum Rp. 100/kg
Biaya produksi Rp. 3,752/lt
Harga jual bioetanol Rp. 7,000/lt
Biaya total Rp. 375,165 /hari Rp. 135,059,400/th
Penerimaan total Rp. 700,000/hari Rp. 252,000,000/th
Profit Rp. 324,835/hari Rp. 106,958,100/th
3. Sebaran penggunaan
Belum banyak dikenal oleh masyakat, sehingga belum ditemukan industri yang menggunakan bahan baku sorgum. Namun sorgum memiliki potesi seperti gandum sehingga besar kemungkinan akan dikembangkan kearah tersebut.
4. Budidaya
Tanaman sorgum mempunyai keistimewaan lebih tahan terhadap kekeringan dan genangan bila dibandingkan dengan tanaman palawija lainnya serta dapat tumbuh hampir disetiap jenis tanah.
5. Lokasi pendirian industri
Sesuai keberadaan bahan baku, maka daerah yang cocok diantarannya adalah Ciwide, Bandung, Indramayu, Garut, Demak, Grobogan dan Tuban.

C. Tetes tebu
1. Ketersediaan
Tetes tebu (molases) merupakan hasil samping industri gula
2. Analisa usaha
Asumsi: Harga beli molases Rp. 700/kg
Biaya produksi Rp. 4,702/lt
Harga jual bioetanol Rp. 7,000/lt
Biaya total Rp. 470,165/hari Rp. 169,259,400/th
Penerimaan total Rp. 700,000/hari Rp. 252,000,000/th
Profit Rp. 229,385/hari Rp. 72,758,100/th
3. Sebaran penggunaan
Tetes tebu banyak dibutuhkan untuk industri pembuat pupuk organik, MSG, balsem, bedak, pasta gigi, dan obat batuk.
4. Lokasi pendirian industri
Sesuai keberadaan bahan baku, maka industri di pulau jawa yang tepat adalah di daerah yang terdapat industri pengolahan gula seperti Majalengka, Indramayu, Pati, Solo, Yogyakarta, Kudus, dan Jember.

Rabu, 18 Februari 2009

POTENSI PORANG

1. Potensi Budidaya porang
Tanaman Porang merupakan tumbuhan herba dan "menahun". Memiliki batang semu (sebenarnya tangkai daun) yang tegak, berkulit halus, berwarna hijau pucat dan putih yang belang-belang dan berkelok-kelok. Di ujung batang memecah menjadi tiga batang sekunder yang akan memecah lagi menjadi beberapa batang dimana helaian daun berjajar beriringan. Pada setiap pertemuan batang terdapat bubil/katak berwarna coklat kehitaman sebagai bahan perkembangbiakan tanaman. Di akhir musim hujan, batangnya akan rebah dan mati, selanjutnya umbi porang akan istirahat (dorman) tidak mengadakan aktivitas pertumbuhan sepanjang musim kemarau. Pada musim hujan umbi yang dorman di dalam tanah akan tumbuh tunas baru sehingga lama-kelamaan umbi semakin mengecil dan akan semakin membesar menjelang musim kemarau dan begitu selanjutnya.
Tanaman Porang yang telah berumur di atas tiga tahun, akan muncul bunga yang disangga tangkai bunga tunggal yang keluar tepat di pusat umbi. Tangkai bunga akan menjulur ke permukaan tanah, panjangnya bisa mencapai 0,5 m s.d. 1,5 m. permukaan tangkai bunga berwarna hijau segar dan berbau tidak enak. Tongkol bunga terdiri dari tiga bagian. Bagian paling atas merupakan bunga mandul, bagian tengah bunga jantan dan paling bawah merupakan bunga betina. Tinggi tanaman dapat mancapai 1,5 m tergantung pada tingkat kesuburan tanah. Dari bunga ini akan menghasil biji - biji yang dapat digunakan sebagai benih/bibit.
Budidaya Porang termasuk budidaya tanaman yang cukup mudah dan tidak terlalu intensif pemeliharaannya. Tanaman Porang merupakaan tanaman sangat pontensial dikembangkan dibawah tegakan hutan negara maupun hutan rakyat, sebab:
1. Porang hanya tumbuh dan berkembang dengan baik dibawah naungan dengan intensitas cahaya sebesar 60-70%. Kondisi ini memerlukan kondisi tegakan hutan yang baik sehingga secara tidak lansung mencegah terjadinya Illegal Logging dan mempertahankan keberadaan hutan negara dan hutan rakyat dalam waktu cukup lama.
2. Mencegah terjadinya penggembalaan liar di dalam kawasan hutan, karena dapat merusak porang yang ada di dalamnya (Tanah menjadi padat),
3. Mencegah terjadinya kebakaran di kawasan hutan, karena akan mematikan perkembangan/kelestarian Porang yang ada di dalamnya,
4. Porang berfungsi hidro orologi sebagai tumbuhan semak di dalam hutan dan mencegah erosi (run off),
5. Mempunyai nilai ekonomis dan produktif,
6. Merupakan jenis tanaman toleran yaitu tanaman yang mampu hidup dibawah naungan.
7. Meningkatkan pendapatan / kesejahteraan masyarakat sekitar tepian hutan,
8. Menciptakan lapangan kerja baru.
Dengan demikian antara tanaman porang (Amorphopallus onchophyllus) dengan tegakan hutan (hutan negara/hutan rakyat) mempunyai hubungan simbiosis mutuaslisme (saling menguntungkan), sehingga tanaman porang layak untuk dikembangkan dalam upaya pelestarian sumberdaya hutan dan sebagai sarana pengalihan orientasi dan mata pencaharian masyarakat di sekitar hutan dari Hasil Hutan Kayu ke Hasil Hutan Bukan Kayu dalam rangka peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarkat. Budidaya Porang untuk satu hektarnya minimal 4 Ton per Hektar dan bila dibudidaya lebih intensif dapat mencapai 8 - 9 Ton per ha.
Tanaman Porang tidak dapat dikonsumsi atau digunakan secara langsung tapi harus diolah lebih lanjut karena mempunyai sifat gatal. Hasil olahan dalam bentuk tepung yang diolah secara pabrikan dan agak rumit. Tapi masyarakat mengolahnya dalam bentuk kripik kering yang dikirim ke pabrik. Perbandingan basah ke bentuk kering adalah 100 Kg basah menjadi 17 Kg Kering. Hasil olahan Porang ini digunakan untuk pencampur atau katalis makanan seperti jellly, ice cream, sosis, dan mie. Digunakan juga untuk bahan kosmetik. Pemasaran selain untuk kebutuhan dalam negeri juga diekspor ke Jepang, China, Eropa dan Kanada.

2. Porang di Indonesia
Tanaman porang yang hidup subur di kawasan hutan tropis ternyata memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan. Selain bisa ditanam di dataran rendah, Porang dengan mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono. Beberapa bentuk usaha porang:
a. Budidaya porang
- Kerjasama antara Perhutani dan LMDH berkait pembudidayaan Porang seluas 37,4 Ha telah dimulai sejak tahun 2005- 2007 yang meliputi LMDH Ngudi Makmur Desa Katekan, Jati Makmur Desa Sumber Jatipohon, Wono Martani Desa Karangrejo, Batur Wana Desa Kemadohbatur, dan LMDH Hutan Lestari Desa Tambakselo.
- LMDH Jatimakmur yang memanfaatkan lahan mencapai 3.720 ha. Dari luasan itu, baru 500 ha yang ditanami porang. Selain di Kecamatan Rejoso.
- LMDH Argo Mulyo di Kecamatan Ngluyu, Kabupaten Nganjuk. Kelompok yang beranggotakan 239 pekebun itu membudidayakan porang di lahan 300 ha.
- Petani porang desa Klangon Kecamatan Saradan Madiun Jatim berhasil memetik keuntungan sebesar Rp 5,5 miliar dengan menanam Porang selama beberapa tahun. Di kawasan itu Porang dibudidayakan diatas lahan hampir 615 ha oleh 515 orang petani dengan produktivitas tanaman mencapai sembilan ton per ha Sementara total produksi adalah 5.535 ton sekali panen yang kemudian di ekspor ke sejumlah negara. Jepang adalah negara utama pengimpor Porang dari Indonesia. Umbi Porang menjadi menu favorit sebagian besar masyarakat disana setelah diolah menjadi makanan Konyaku (tahu) dan Shirataki (mie).
b. Industri pengolahan porang
- PT Agro Alam Raya adalah eksportir keripik porang di Jombang, Jawa Timur. Sedangkan kapasitas produksi hanya sanggup memasok 300 ton/tahun. Negara tujuannya adalah Australia. Sementara kebutuhan yang ditawarkan adalah 1000 ton/tahun. . Untuk memenuhi kebutuhan pasokan, Lukman mengerahkan 4 truk berkapasitas 9 ton yang setiap harinya menjemput porang segar dari para pekebun di Banyuwangi, Madiun, Nganjuk, dan Jember. Harga beli umbi porang segar di tingkat pekebun Rp800/kg.
- PT. Ambico, Ltd desa Carat, kec. Gempol, Pasuruan merupakan produsen olahan porang menjadi konyaku dan sirataki. Kebutuhan bahan baku segar saat ini 2.000 ton/tahun. Hasil olahan Ambico berupa shirataki dan konyaku. Menurut Sukirman, juru masak Restoran Hanamasa, kedua penganan itu merupakan menu utama yang disebut shabu-shabu. Shirataki dan konyaku dapat dikombinasikan dengan hidangan laut, daging, atau sayuran. Saat menikmati hidangan itu, biasanya tersedia saos thai suki yang rasanya kuat sehingga shirataki dan konyaku lebih nikmat.
- CV SKS Jaya dengan alamat Jl. Setra sari, Bandung, Jawa Barat merupakan industri pengolahan porang menjadi tepung dan chips.Mampu menghasilkan tepung dengan kadar glukomanan 60%

3. Prospek porang di Indonesia
a. Dengan harga jual Rp1.000/kg, pekebun masih memperoleh laba Rp500/kg. Hal itu lantaran pekebun tak perlu membeli atau pun menyewa lahan. Dengan bergabung dalam LMDH, pekebun mendapat hak pengelolaan lahan hutan secara cuma-cuma. Pemeliharaannya pun mudah. Cukup lakukan penyiangan bila tinggi gulma melebihi tanaman porang. Para pekebun juga dapat meraup penghasilan tambahan dengan menjual umbi katak yang jatuh untuk benih dan umbi segar. Harga jual umbi katak Rp8.000/kg. Bila umbi katak dibiarkan tumbuh, pekebun dapat menjualnya sebagai bibit dengan harga Rp2.000/batang.
b. Hasbullah salah seorang penyedia porang di nganjuk, jatum dengan harga Rp 6500,-/kg porang kering. Eksportir porang di Surabaya itu juga tidak menetapkan syarat ketat, yang penting umbi kering dan bersih dari cendawan. Umbi porang segar diiris dengan ketebalan 1 cm. Irisan itu kemudian dijemur hingga 3 hari. Pengeringan juga bisa dilakukan dengan oven. Agar benar-benar kering perlu pemanasan sekitar 1,5 jam. Umbi kering kemudian dikemas dalam karung plastik dan siap dikirim ke pabrik pengolahan di Surabaya.
c. Suratman di Desa Sambikerep, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Guru Sekolah Dasar itu membudidayakan porang di lahan 15 ha. Dari lahan itu Suratman memanen 75-150 ton umbi porang segar per tahun atau 5-10 ton/ha. Dalam setahun Suratman hanya sekali menanam porang. Sebab umbi porang hanya tumbuh subur di musim hujan. Umbi hasil panen dijual ke pengepul. Dengan harga jual Rp1.000/kg, total omzet yang diraih Suratman Rp75-juta-Rp150-juta per tahun atau Rp6,25-juta-12,5-juta per bulan. Dari harga jual itu Suratman mengutip laba bersih Rp500/kg atau Rp3,12- juta-Rp6,25-juta per bulan. Di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, itu tak hanya Suratman yang menangguk laba dari porang.
d. Menurut Suparno, wakil ketua Forum Komunikasi LMDH Jawa Timur, pekebun porang juga meluas di berbagai daerah seperti Madiun, Banyuwangi, dan beberapa daerah di Nusa Tenggara Barat. Masing-masing pekebun pun berlomba-lomba memperluas lahan garapan.
e. Pohon industri porang: umbi bisa dibuat : chips, chip setelah dimurnikan jadi tepung dibuat beraneka makanan: mie, tahu jepang, beras tiruan rendah kalori, bermacam-macam menu makanan namun baru jepangb yg bisa buat. saya belum penelitian utk itu. demannya ngak ada di Indonesia. nanti akan saya muat tulisan saya tentang ini. saya baru buat mie instan dan pangan darurat. juga dari tepung dibuat glukomanan bahan baku industri macam-2. limbah padatnya masih sdg riset utl lem dan lem lengket pada suhu kamar. Mata rantai industri porang ya: produsen biasanya petani hutan, tengkulak dea, tengkulak kecamatan, tengk. kota, tengk propinsi, industri pabrik industri olahan makanan spt; jelly drink, dsb. Manfaat lain porang antara lain dipakai sebagai perekat lem pesawat terbang, campuran bahan baku industri, bahan dasar industri perfilman, hingga diolah menjadi minuman penyegar tubuh. (H41-16) (Suara Merdeka).

4. Kendala usaha porang
a. Terbukanya peluang usaha porang bukan berarti tanpa aral melintang. Jumlah eksportir porang yang masih terbatas dikhawatirkan tercipta ketergantungan pasar. Menurut Lukman Hakim, saat ini baru terdapat 5 eksportir porang di Indonesia. Akibatnya, kendali harga ada di tangan para eksportir. Modal yang terbatas membuat para pekebun hanya mengandalkan keuntungan dari hasil penjualan umbi segar. Padahal, bila dijual dalam bentuk olahan, keuntungan bisa berlipat.
b. Salah satu zat manan itu digunakan sebagai bahan perekat, pembuat seluloid, kosmetik, makanan, hingga bahan peledak. Peluang usaha porang yang menggiurkan mendorong para pemasok mengambil jalan pintas. Mereka lebih memilih berburu di hutan-hutan ketimbang membudidayakannya di lahan. Akibatnya, populasi porang di alam terancam. Padahal, untuk memperoleh bibit para pekebun juga mengandalkan pasokan alam. Jika demikian, harta yang terpendam itu perlahan sirna (trubus).

POTENSI BIOETANOL

A. Aspek Pasar
a. Pasar International.
Peluang bisnis biofuel di dunia sangat besar. Berdasarkan laporan Clean Edge seperti dikutip buku The Clean Tech Revolution (2007) karya Ron Pernick dan Clint Wilder, pasar biofuel di dunia tahun 2006 mencapai 20,5 miliar dolar AS (untuk etanol dan biodisel). Nilai pasar itu akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2016. Di AS, etanol dicampur dengan gasoline (premium) dengan kadar campuran 2-85 persen. Di Brazil, sudah diproduksi mesin-mesin yang bisa memakai etanol seluruhnya (100 persen). Namun demikian, kondisi pasar etanol di Brazil sangat fleksibel. Jika harga BBM tinggi sekali, maka campuran etanol pada premium diperbesar, dan sebaliknya. Tahun 2006, produksi etanol di dunia mencapai 12 miliar galon. Di AS, campuran premium dan 10 persen etanol (E-10) dipakai mobil-mobil tanpa modifikasi mesin. Sedangkan untuk campuran 85 persen etanol (E-85), mesinnya dimodifikasi dengan flex-fuel vehicle (FFVs). Jika produksi etanol di dunia makin besar dan kendaraan di dunia sudah pro-biofuel, niscaya semua kendaraan di muka bumi akan memakainya. Jika sudah demikian, ‘emas hitam’ yang berasal dari kilang-kilang minyak di Timur Tengah akan bergeser ke ‘emas hijau’ yang berasal dari kebun-kebun minyak di daerah tropis seperti Asia dan Amerika Latin.
b. Pasar Nasional
Pada kurun pertama 2007-2010 selama 3 tahun pemerintah memerlukan rata-rata 30.833.000 liter bioetanol per bulan. Dari total kebutuhan itu cuma 137.000 liter bioetanol setiap bulan yang terpenuhi atau 0,4%. Itu berarti setiap bulan pemerintah kekurangan pasokan 30.696.000 liter bioetanol untuk bahan bakar. Pangsa pasar yang sangat besar belum terpenuhi lantaran saat ini baru PT Molindo Raya Industrial yang memasok Pertamina. Dari produksi 150.000 liter, Molindo memasok 15.000 liter per hari. Molindo menjual biopremium melalui Pertamina Rp5.000 per liter. Pertamina menerima berapa pun pasokan bioetanol dari pihak swasta. Yang penting memenuhi syarat berkadar etanol minimal 99,5%. Rata-rata bioetanol hasil sulingan produsen skala rumahan berkadar 90-95%. Agar syarat itu tercapai, produsen dapat mencelupkan penyerap seperti batu gamping dan zeolit sehingga kadar etanol melonjak signifikan. Selain itu, pemasok harus mengantongi izin usaha niaga bahan bakar nabati dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Trubus).
c. Produsen bioetanol
- PT Molindo Raya Industrial di Malang, Jawa timur. Kapasitas produksi 48000 Kl/tahun. Bahan baku tetes tebu
- LPDME di Kendal. Bahan baku tetes tube, porang, ubi kayu
- Pengolahan Bioetanol di Ajibarang, Banyumas. Kapasitas produksi 8000 lt/hari. Bahan baku ubi kayu
- PT Bio Prima Energi Mandiri di desa Munggu, Kec. Petanahan, Kebumen. Kapasitas 300 lt/hari. Bahan baku tebu, jagung, ubi kayu
- Pak Budi Sulaeman di Doplang, Karang pandan, Karanganyar. Kapasitas 480 lt/hari. Bahan baku tetes tebu
B. Survei lapang
a. Bahan baku dan lahan pengembangan ubi kayu
Ubi kayu di jawa barat banyak di kabupaten Sukabumi dan Bogor. Di sukabumi tersebar di kecamatan Cikembar, dan Ciemas yaitu daerah Sukabumi bagian selatan. Di kabupaten Bogor tersebar di kecamatan Citeureup dan babakan Madang. Kisaran harga ubi kayu di kebun Rp 700,-/kg. Ditemukan banyak lahan di daerah sukabumi selatan yaitu milik perum perhutani, cukup potensial untuk pengembangan ubi kayu dan atau sorgum. Didaerah Garut dan Bandung juga terdapat banyak lahan yang berbukit bekas tanaman ubi kayu.
b. Kompor bioetanol
Ada beberapa kompor bioetanol yang sudah di kaji diantaranya:
- Kompor buatan pak Soekaeni dari Cicurug
- Kompor Bahenol ( bahan hemat etanol) buatan pak Budi Sulaeman dari Karanganyar
- Kompor dari PT Kreatif energy yang sebenarnya impor dari luar negeri. Ada 3 jenis
- Kompor Repindo buatan pak Mansyur dari Yogyakarta
- Kompor buatan PT Agro Farmaka sendiri hasil modifikasi beberapa kompor sebelumnya
Dari semua kompor yang telah dikaji, masih terdapat beberapa kelemahan yang harus di sempurnakan lagi. Beberapa yang masih harus di sempurnakan adalah sistem pembesaran api, tabung penampung bioetanol, warna nyala api, dan sistem mematikan api.
c. Produk bioetanol
Ada beberap bioetanol yang dihasilkan oleh beberapa produsen. Diantaranya:
- Bioetanol kadar 90% telah dihasilkan oleh pak Soekaeni di Sukabumi dan pak Himawan di Cilegon
- Bioetanol kadar 80% oleh PT Kreatif Energi
- Bioetanol kadar 50% oleh pak Budi Sulaeman
- Bioetanol kadar 75% oleh LPDME Kendal
- Bioetanol jeli yaitu bioetanol dalam bentuk padat. Bioetanol jeli diproduksi dengan mencampur bioetanol dan bahan pengental.
C. Hasil tinjauan lapang dan wawancara
Dari hasil tinjaun dan wawancara dengan masyarakat setempat, telah diperoleh beberapa informasi diantarannya:
1. Masyarakat pada umunya belum tahu bahwa ubi kayu itu dapat menggantikan minyak tanah. Bahkan sebagian yang lain tidak tahu sama sekali kalau tanaman bisa jadi minyak.
2. Petani ubi kayu termasuk petani kurang sejahtera sebab kemampuan mereka menanam ubi kayu biasanya tanpa modal besar. Bibit didapat dari sisa tanaman sebelumnya. Petani cenderung tidak melakukan aktivitas berarti untukmerawat tanamannya itu
3. Ubi kayu sebenarnya tersebar di sebagian besar kawasan jawa barat. Pada umumnya ubi kayu menjadi tanaman sela. Pada daerah sentra ubi kayupun belum ditemukan kelompok tani khusus penanam ubi kayu yang sudah lama terbentuk. Kalaupun ada yaitu di kecamatan Ciemas itu karena adannya program dari pemerintah jawa barat yang usia kelompoknya masih baru.
4. Sebagian besar masyarakat daerah sentra ubi kayu menyambut positif adanya program pemanfaatan ubi kayu menjadi bioetanol. Mereka yakin akan banyak petani yang mau menanam ubi kayu dengan perawatan lebih.
5. Harga ubi kayu di sebagian besar jawa barat Rp 700,-/kg basah. Harga lebihrendah bisa ditemukan pada daerah yang semakin jauh dari kota.
6. Bioetanol sebagai pengganti minyak tanah belum sepenuhnya dibutuhkan masyarakat saat ini. Untuk daerah pedesaan, mereka masih menggunakan kayu yang tersedia di kebun-kebun atau hutan. Program konversi ke Gas juga masih mampu mencukupi meskipun dibeberapa daerah terjadi kelangkaan. Harga minyak tanah sendiri masih relative terjangkau oleh masyarakat. Apalagi kualitas nyala api dari kompor bioetanol yang belum bisa bersaing, kalaupun ada beberapa kompor yang nyalannya biru iru saja harga belinya masih mahal.